Kebiasaan dan Pola Perilaku
Pernahkah Anda berjanji kepada diri sendiri untuk berhenti melakukan sesuatu, tetapi beberapa waktu kemudian justru mengulanginya kembali?
Anda tahu bahwa kebiasaan tersebut tidak baik. Anda memahami akibatnya. Bahkan mungkin sudah berkali-kali berusaha menghentikannya.
Namun, ketika menghadapi situasi tertentu, dorongan untuk mengulangi kebiasaan itu kembali muncul.
Misalnya:
Ingin berhenti merokok, tetapi kembali merokok ketika sedang stres.
Ingin mengurangi penggunaan ponsel, tetapi tanpa sadar terus membuka media sosial.
Ingin berhenti menunda pekerjaan, tetapi selalu menemukan alasan untuk melakukannya nanti.
Ingin mengendalikan emosi, tetapi kembali bereaksi berlebihan ketika menghadapi konflik.
Ingin menghentikan kebiasaan berjudi, tetapi terus merasakan dorongan untuk bermain.
Ingin menjalani pola hidup lebih sehat, tetapi kesulitan mempertahankan kebiasaan baru.
Dalam hati mungkin muncul pertanyaan:
“Kenapa saya terus melakukan sesuatu yang sebenarnya ingin saya hentikan?”
Kesulitan mengubah kebiasaan tidak selalu disebabkan oleh kurangnya kemauan. Terkadang, perilaku tersebut telah menjadi respons otomatis yang dipelajari dan diperkuat melalui pengalaman berulang.
Apa Itu Kebiasaan dan Pola Perilaku?
Kebiasaan adalah perilaku yang dilakukan secara berulang hingga menjadi relatif otomatis, terutama ketika seseorang menghadapi situasi atau pemicu tertentu.
Sementara itu, pola perilaku merupakan kecenderungan seseorang dalam bertindak atau merespons keadaan yang dapat terbentuk melalui pengalaman, pembelajaran, lingkungan, dan kebiasaan sehari-hari.
Tidak semua kebiasaan bersifat buruk.
Kebiasaan menyikat gigi, berolahraga, membaca, atau mengatur waktu merupakan contoh kebiasaan yang dapat mendukung kehidupan.
Namun, beberapa kebiasaan dapat menimbulkan masalah ketika mulai mengganggu kesehatan, hubungan, pekerjaan, keuangan, atau kesejahteraan emosional.
Perilaku yang terus berulang dapat menjadi semakin sulit diubah apabila memberikan rasa lega, kesenangan, atau keuntungan sesaat, meskipun menimbulkan dampak negatif dalam jangka panjang.
Mengapa Kebiasaan Buruk Sulit Dihentikan?
Salah satu alasannya adalah karena kebiasaan tidak hanya melibatkan keputusan sadar.
Perilaku yang sering diulang dapat menjadi lebih otomatis melalui proses pembelajaran di otak.
Sebagai contoh, seseorang terbiasa merokok ketika menghadapi tekanan pekerjaan.
Pada awalnya, ia mungkin merokok karena ingin mencoba atau mengikuti lingkungan pergaulan.
Namun, setelah dilakukan berulang kali, situasi stres dapat menjadi pemicu yang berkaitan dengan dorongan merokok.
Hal serupa dapat terjadi pada kebiasaan membuka ponsel ketika bosan, menunda pekerjaan ketika merasa takut gagal, atau bereaksi marah ketika merasa terancam.
Dalam psikologi perilaku, kebiasaan sering dijelaskan melalui hubungan antara pemicu, perilaku, dan konsekuensi yang memperkuatnya.
